Jumat, 23 Oktober 2009




Perjalanan yang membuat hati bergetar dalam setiap lantunan nada detik waktu berjalan. Sungguh saudara dalam Kristus menjadikan kita semua sehati dan sepikir, awal yang membuat ragu diantara satu dengan yang lain tak menjadikan persahabatan semakin rapuh karena goresan pecahan batu yang tajam. Seonggok pikiran jahat yang menjadi pengganjal, hampir memupuskan puncak semangat di ujung ubun-ubun. Pernah ada kata yang demikian "ah, lebih baik jangan karena semua harus menjadi api yang sebara dan menjadi air dalam satu wadah. demikian juga harus mengalami berbagai keras lembut hati dalam melintasi batu-batu terjal yang membuat lutut menjadi bergetar. bahkan harus menjadi kepala dalam gua es yang tak leleh oleh panas bara api".
Demikian pedas sambal yang harus dimakan, tetapi tidak menyurutkan niat lidah untuk merasakan nikmatnya pengalaman rasa yang menggigit perasaan dan jiwa dalam sekejap pandangan mata kabur menerawang jauh menembus batas keindahan, anugerah yang Tuhan diberikan kepada ciptaanya yang terlalu mempesona untuk mendapatkan tempat yang tinggi.
namun demikian betapa hari menjadi sangat pendek dalam rentangan panas menyengat yang mampu memasakkan kulit dalam gerah tubuh dan jiwa. betapa tidak mulai dari fajar menyapa dengan lembut, perkara hitam atau tidak kawanan penerjemah keindahan dalam laku yang menarik mempertontonkan betapa bahagia dapat terwujud dan kekelaman dapat pupus lenyap dalam lompatan dan teriakan merdu memecah hawa dan ombak yang menggelegar menembus celah yang semakin membesar di antara kokoh tebing perkasa Sempu Island.
Betapa hari-hari yang diberikan Tuhan serasa tidak dapat memenuhi otak benak yang semakin mengalahkan kekuatan tebing perkasa yang berdiri dengan sombong di hari-hari itu. Semakin mendalam perasaan ini dibuai oleh hasil fotografi yang dibuat oleh ciptaan yang Maha Mulia. hari itu dubuat bagaikan ingn ditahan dan lemah lunglai detak jam berjalan. Begitu menggoda dan sayang tertutup sekejap saja seluruh kekuatan dijiwa untuk berhenti menikmati. Berputar di udara, di air, pasir bahkan diantara karang terjal yang membuahkan darah segar mengalir dan mengajak beberapa dahi mengeryit dan perih hati. Semuanya bukan mendatangkan hati menjadi seperti bekas bara yang tersiram oleh air, tetapi tetap menjadikan batu kabahagiaan tertanam, terpatri kuat sampai kapanpun.
Perjalanan yang indah dalam pelukan kedamaian alam yang tak dapat tertandingi oleh perbuatan tangan manusia. Tak akan pernah album dalam otak benak tehapus oleh sapuan badai keelisahan. Tetap tertahan oleh girang dan binar mata yang meatap lembut dalam setiap silir angin yang menerpa muka dalam keheningan. Sungguh kekenyangan dalam kelaparan akan hasil karya terindah. Sungguh rencana yang tidak memiliki keinginan untuk berhenti tersenyum simpul ketika angin sepoi tiba-tiba datang menghapiri ketika kamu berada di sudut cendela pada waktu pagi yang segar. By Bkorn (Memory of Sempu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar